Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Rini Febriani Hauri dalam Skripsi Mahasiswa Sanata Dharma

I'M Not A PIRATE: A Woman in Past i’m not a pirate who disguised as a robber the puddle of memories at end of leaf immersed in time – slowly i was still silent day dreaming flowing in the circle of years you are graceful women with a polite speech i’d rather see you in a dress rather than sweep at dewy dock as before, we started to get up and i tucked ylang flower in your heart when the rain falls Jerambah Bolong, 2012 Diterjemahkan oleh M. Andre, mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan. Versi Bahasa Indonesia BUKAN SEORANG LANUN : Perempuan Masa Lalu aku bukanlah seorang lanun yang menyamar menjadi penyamun genangan kenangan di ujung daun tergenggam waktu – lambat laun aku masih diam melamun mengalir di lingkaran tahun kau perempuan-perempuan anggun dengan tutur kata yang santun aku lebih suka melihatmu memakai gaun ketimbang menyapu dermaga embun seperti dahulu kita mulai bangun dan kuselipkan kenanga di hatimu bila

Puisi Rini Febriani Hauri di Harian Kabar Madura

  Burung-Burung Peluru di bawah sinar matahari yang keemasan burung-burung berlompatan bebas membelakangi angin dan pohon-pohon menceburkan diri ke awan-gemawan sayap-sayapnya mengapung di atas langit kicaunya adalah jeritan ketakutan tuan-tuan pemburu membawa senapan dengan ransel penuh peluru mereka mencari sarang-sarang burung dan menguntit perjalanan burung-burung dari bukit yang jauh, burung-burung tahu berlari – jauh – seperti musafir yang ketakutan di sebuah ranting pohon bunga angsana burung betina menangis sendu gemetar di dalam cemas anak serta sarangnya hilang dikoyak peluru ulat-ulat daun menggelinjang kelopak bunga angsana berguguran bahkan pohon tak bisa memberikan perlindungan dalam doanya sebuah suara melesat dan tiba-tiba gelap seperti dingin yang beku di akhir malam ia seperti embun yang jatuh tubuhnya meleleh dan hancur di rerumputan dari arah barat hingga ke selatan cerobong-cerobong pabrik terus bergemuruh besi-

Puisi-Puisi William Butler Yeats Terjemahan Rini Febriani Hauri

Ketika Kau Menua KETIKA kau menua, kelabu dan pengantuk, terangguk-angguk di dekat pendiangan, ambillah buku ini, bacalah pelan-pelan dan khayalkan pandangan matamu, yang dahulu lembut dan bayangannya yang dalam; betapa banyak yang  mengagumi saat-saat riangmu, dan mencintai kemolekanmu dengan cinta murni ataupun palsu tetapi seorang lelaki mencintai  kesalehan di dalam dirimu, dan mencintai kemurungan roman wajahmu yang silih berganti; sambil membungkuk di samping besi pendiangan yang berkilauan bara api bergumam, sedikit sedih, betapa cinta terbang dan melayang ke atas puncak gunung nun jauh di sana lalu menyembunyikan wajahnya di tengah kerumunan bintang-bintang 1919 Menjelang Fajar KEMBARAN mimpikukah ini? perempuan yang lelap terbaring di sisiku dan bermimpi ini, ataukah kami telah membelah mimpi dalam naungan kilauan dingin pertama hari ini? pikirku: ‘Ada air terjun di sisi Ben Bulben yang kusayang sepanjang masa kecilku;

Antara Penyair Perempuan dan Puisi Esai

Proyek penulisan puisi esai nasional Denny J.A. (DJA) jilid II melibatkan berbagai penulis dari 34 provinsi se-Indonesia. Dalam satu buku puisi esai, terdiri atas lima penulis yang mewakili setiap provinsi, yang akan diterbitkan secara serentak di Indonesia. Masing-masing penulis mendapatkan kontribusi sebesar Rp5 juta. Namun akhir-akhir ini, proyek penulisan tersebut menimbulkan polemik baru dalam sastra Indonesia. Tiba-tiba saja muncul berbagai penolakan puisi esai dari banyak komunitas. Di antara pro dan kontra puisi esai, sebagian penulis puisi esai adalah penyair perempuan. Di lain pihak, ada juga beberapa penyair perempuan yang mengundurkan diri. Mengapa puisi esai menimbulkan berbagai polemik? Bagaimana isu perempuan dalam puisi esai? Simak hasil wawancara puan.co bersama Dellorie Ahada Nakatama, Fatin Hamama R. Syam, Rukmi Wisnu Wardani, dan Waode Nur Iman berikut ini! Dellorie, Penyair yang Mengundurkan Diri dari Puisi Esai Setelah viral nama beberap

Megengan, Tradisi Masyarakat Bumi Reog Ponorogo

Megengan adalah sebuah tradisi kenduri bersama masyarakat bumi reog Ponorogo yang diadakan bergiliran di rumah warga sekitar yang telah disepakati. Selain di rumah warga, terkadang ada juga yang memilih masjid sebagai lokasi kenduri. Megengan dirayakan dua kali, yakni seminggu menjelang bulan Ramadan dan seminggu menjelang hari raya Idulfitri. Acara megengan dilaksanakan pada malam hari. Jika menyambut idulfitri, biasanya diadakan usai salat tarawih. Salah satu wilayah yang masih merayakan tradisi megengan , yakni Kelurahan Keniten, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dalam bahasa Jawa, megengan berarti menahan. Maka warga masyarakat yang akan menahan rasa haus dan lapar saat Ramadan perlu menyambut kedatangan bulan suci Ramadan dan Idulfitri dengan gembira dan sukacita. Dwi Rahariyoso, lelaki yang berdiam di Keniten Ponorogo, mengatakan bahwa acara megengan ini sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat di bulan Ram

Resensi : Disorientasi Berujung Maut

  Pernahkah Anda merasa tersihir usai membaca sebuah novel? Bila belum, novel terjemahan yang ditulis oleh penulis Mesir ini bisa menjadi salah satu pilihan membuang waktumu. Kisah dimulai ketika Said Mahran yang baru lepas dari jeruji besi, merasa harus mencari Nabawyya dan Ilish. Sebab ia merindukan Sana – anak perempuan berusia enam belas tahun hasil pernikahannya dengan Nabawyya. Namun nasib buruk telah menghantamnya. Sana menyangkalnya. Ia tak mau mengikuti ayahnya yang mantan narapidana – pencuri berdarah dingin sekaligus residivis kelas kakap. Kehancuran merobek-robek hati Said. Ditambah lagi, Nabawyya telah menikah dengan Ilish – bawahannya sekaligus bekas sahabat baiknya. Di tengah perjalanannya, ia bertemu Nur – kekasih lamanya – yang rela melakukan apa pun demi Said. Namun pada akhirnya, Nur pun melakukan pengkhianatan dengan menjalin kisah dengan lelaki lain. Sebab Said Mahran adalah lelaki yang kaku, sementara perempuan butuh lelaki yang hangat. Said sel

Sahabat, Sudahkah Membahagiakan Ibunda?

Di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Tak sedikit ucapan yang dikhususkan untuk ibu di media sosial. Ungkapkan perasaan di dunia virtual itu pun bermacam-macam. Mulai dari menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia, hingga bahasa Inggris, katanya sih biar kekinian. Tak hanya kata-kata yang trenyuh, ada pula yang bergaya dengan sang ibu di akun medsosnya. Beberapa akun pun mengadakan perlombaan memperingati Hari Ibu dengan hastag tertentu. Perayaan tahunan semacam ini memang sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap jasa ibu yang selama ini telah merawat dan membesarkan anaknya tanpa pamrih. Namun, apakah ungkapan-ungkapan perasaan ini juga disampaikan oleh warganet secara langsung di dunia nyata? Kenyataannya tak demikian, tak semua yang mengunggah ungkapan puitis di medsos buat sang ibu berani diucapkan secara langsung. Dalam artian, kecanggihan teknologi memunculkan fenomena baru bahwa euphoria dianggap sebagian warganet seba

Rise For Holiday