Langsung ke konten utama

RESENSI BUKU 2 : Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan




Judul Terjemahan                 : Daisy Manis
Judul Asli                             : Daisy Miller
Penulis                                 : Henry James
Penerjemah                          : Sapardi Djoko Damono
Penerbit                               : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan                               :  Pertama, Agustus 2016
Tebal Halaman                      :  219 halaman
ISBN                                   :  591601250


Daisy Manis merupakan salah satu novel terjemahan seri sastra klasik dunia yang ditulis oleh Henry James dengan judul asli Daisy Miller.  Henry James adalah pengarang roman kelahiran New York, 15 April 1843. Ia meninggal  di Inggris tanggal 28 Februari 1916. Versi asli novel ini terbit pada 1978 – dan telah difimkan pula.

Novel Daisy Manis bercerita tentang kisah gadis muda Amerika yang cantik bak puteri bangsawan, kaya, polos, tetapi sia-sia dalam menghadapi keangkuhan sosial bangsanya di Eropa. Ia sangat lincah dalam bergaul, semaunya sendiri, tahu batas, tetapi hancur menjadi bahan pergunjingan, hanya karena ia kurang menghormati tata cara dan sopan-santun yang telah menjadi adat setempat.

Kisah dalam novel ini dibuka dengan bertemunya pemuda asal Amerika – Winterbourne –  dan bocah laki-laki berumur sembilan tahun – Randolph Miller – di kota kecil bernama Vevey, Swiss.  Randolph Miller ternyata adalah adik kandung dari Daisy Miller yang memiliki nama asli  Annie P.  Miller. Pertemuan yang tak direncanakan ini membuat Daisy dan Winterbourne berbincang-bincang di sebuah kursi. Menurut adat Amerika yang juga berlaku di Eropa, lelaki muda tidak akan berbicara bebas kepada wanita yang belum menikah, kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Namun, Daisy tidak memedulikan hal tersebut. 

Mereka lalu membuat janji mengunjungi Puri Chillon. Winterbourne juga berjanji akan memperkenalkan Daisy ke bibinya yang bernama Ny. Costello – seorang janda kaya raya dan juga sangat selektif dalam bergaul. Setelah mendengar cerita dari kemenakannya, Ny. Costello menolak untuk dipertemukan dengan Daisy. Menurutnya, Daisy adalah perempuan Amerika yang tak berbudaya karena ia sering bergaul dengan banyak teman lelaki yang pada zaman itu dianggap sangatlah tabu dan melanggar adat.

Meskipun Daisy adalah keluarga kaya yang tinggal dari hotel ke hotel di  beberapa negara di Eropa, tetapi keluarganya (ibunya, adiknya, dan pesuruhnya) dijauhi oleh masyarakat sekitar. Mereka dicap sebagai masyarakat kelas rendah yang tidak lagi menjunjung tinggi adat-istiadat. Sebab, keluarga Daisy memperlakukan Eugenio – pesuruhnya – layaknya sebuah keluarga.  

Walaupun hanya pesuruh, Eugenio selalu tampil rapi memakai jas yang bisa dikata pada zaman dahulu adalah pakaian yang mewah. Selain itu, keluarga Daisy selalu makan bersama dengan Eugenio dalam satu meja. Sementara menurut Ny. Costello yang selalu merasa dirinya berada dalam tatanan sosial kelas tinggi sangat menjaga jarak kepada siapa pun. Takpeduli ia kaya raya atau tidak. Baginya seorang pesuruh seharusnya diperlakukan sebagai pesuruh. Hal ini menunjukkan bahwa feodalisme masih berkembang pesat di era itu. Keunikan cerita inilah yang kemudian menjadi konflik antarmereka. Ny. Costello yang kental dengan keangkuhannya dan keluarga Daisy yang humanis –  yang menjunjung tinggi sisi kemanusiaan.

Yang menjadi pembeda novel ini dengan novel-novel Indonesia, yakni terdapat beberapa halaman yang paragrafnya bernafas panjang. Lebih dari sepuluh halaman yang tiap halamannya hanya terdiri satu paragraf saja. tentu saja ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi pembaca untuk berkonsentrasi menyelami dunia Henry James.

Winterbourne yang sangat tertarik kepada Daisy yang ramah, ketika itu mengunjungi Daisy sekeluarga yang pindah ke sebuah hotel di Roma, Italia. Bukan hanya di Vevey Swiss, di kota ini ternyata Daisy juga menjadi pergunjingan di tengah-tengah masyarakat. Ia memiliki teman karib lelaki tampan asli Italia bertubuh kecil – Giovanelli. Giovanelli bukanlah seorang yang kaya, tetapi Daisy mau bersahabat karib dengannya. Sebenarnya, Ny. Miller – Ibu Daisy – tak pernah menyetujui Daisy bepergian dengan lelaki mana pun. Namun, Daisy yang ramah, menawan, dan terbuka terhadap siapa pun merasa membutuhkan seorang teman tanpa peduli apakah ia kaya atau tidak. Saat Winterbourne mengetahui Daisy dekat dengan Giovanelli, ia terbakar cemburu. Apalagi menurutnya, lelaki rendahan dalam tatanan sosial tidaklah setara dengannya yang merupakan lelaki terhormat. Inilah krtitik sosial yang sebenarnya ingin diutarakan oleh James.


Selain pergolakan antara adat dan keterbukaan keluarga Daisy, pembaca juga akan diajak berwisata sejarah. Sebut saja Puri Chillon di Swiss – yang kaya akan peninggalan feodal, juga Colosseum di Roma, Italia. Sayang, kemegahan dan keindahannya tidak dijelaskan secara detail oleh pengarang. Selain itu, terjemahan bahasanya terlalu formal dan kaku. Kata You yang diterjemahkan menjadi Anda terkesan memberi jarak. Padahal obrolan berlangsung antara laki-laki dan perempuan dalam suasana santai – bukan formal. Semestinya penerjemah barangkali bisa menggunakan diksi kamu/kau supaya suasana akrab antarmereka lebih hidup. Bila saja pembaca sudah membaca novel Daisy Miller dalam edisi asli bahasa Inggris, pembaca akan merasakan sendiri perbedaannya. 

Bila berbicara masalah pergolakan adat, saya jadi teringat novel-novel Indonesia  angkatan Balai Pustaka (1920-an) yang sangat banyak membicarakan adat dalam banyak kisah. Sebut saja kisah Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922), Darah Muda (Adi Negoro, 1927), Rusmala Dewi (S. Hardjo Soemarto, 1934)  yang mengkritik pola pikir masyarakat kala itu yang sangat konservatif, yakni masalah perjodohan/kawin paksa. Secara tematik, yang diangkat dalam novel-novel Amerika dan Indonesia relatif sama. Bisa disimpulkan, permasalahan adat dan tradisi adalah isu dominan yang melanda kebudayaan global saat itu. 

Tertarik untuk membacanya? Atau masih tinggal diam? Segala pilihan ada ditangan Anda.



Jerambah Bolong, Agustus 2017
Rini Febriani Hauri


Tulisan ini dimuat di puan.co tepat di hari kemerdekaan 2017. Sila klik http://puan.co/2017/08/ketika-modernitas-datang-dan-tradisi-belum-ditinggalkan/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelik Sumpah,Bisnis Sampingan Suku Anak Dalam

Sahabat Puan pernah mendengar sebelik sumpah khas sad (Suku Anak Dalam)? Jika belum pernah, ayo simak liputan puan.co!   Sebelik sumpah merupakan kerajinan tangan khas orang rimba / SAD di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas). Kerajinan tangan ini berupa gelang, kalung, dan gantungan kunci. Orang rimba atau SAD meyakini bahwa kalung dan gelang sebelik sumpah memiliki kekuatan magis meski tanpa diberi mantra sekalipun. Mereka percaya bahwa orang yang memakai kalung dan gelang sebelik sumpah akan terbebas dari sumpah serapah orang-orang yang bermaksud jahat. Malah, sumpah serapah itu dipercaya akan berbalik ke tuannya, seperti senjata makan tuan. Selain itu, sebelik sumpah juga bisa menjadi penolak bala yang datang kepada mereka. Karena penasaran dengan kerajinan tangan khas ini, saya pun berkunjung ke Sako Napu Makekal Hulu di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas) Merangin, Jambi. Di ibu kota Kabupaten Merangin, yaitu Bangko, tepatnya di mes Sokola Rimba, say...

Buku Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia

Oleh: Tri Wahyuni Zuhri Judul  : Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia Penulis : Kurniawan Junaedhie Penerbit : Kosa Kata Kita Jakarta Jumlah hlm. : 338 Tahun : 2012 Buku yang di tulis oleh Kurniawan Junaedhie dan di terbitkan oleh Kosa Kata Kita Jakarta, memang cukup banyak di cari. Terutama karena buku ini memuat sekitar 800-an lebih profil perempuan pengarang dan penulis Indonesia.  Sejak zaman Saadah Alim, perempuan pengarang kelahiran 1897, hingga Sri Izzati, pengarang kelahiran 1995. Dalam kata pengantar di buku ini, Kurniawan Junaeid menjelaskan alasannya membuat buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia.  Selama ini masih sedikit sekali buku  literatur yang menjelaskan sepak terjang perempuan pengarang dan penulis di Indonesia.  Sebut saja buku-buku tersebut antara lain Leksikon Kesustraan Indonesia Modern Edisi Baru (Djambatan, 1981) di susun oleh Pemusuk Eneste, Leksikon Susastra Indonesia (Balai P...

Puisi Rini Febriani Hauri dalam Buku Antologi Puisi Wartawan se-Indonesia

Dua Puisi RFH di Buku Puisi Wartawan Indonesia Pesona Ranah Bundo dalam rangka Hari Pers Nasional 2018 Sumatera Barat sumber: L'imagerie Gallery Ladam Kuda Ladam kuda bergelantungan di atas pintu rumah panggung Oh, roh nenek moyang. Jagalah kami dari marabahaya Dan segala tuah ninik mamak tua tengganai Seruan bintang dan debur sungai tabir yang keruh Menjalar ke jembatan gantung Tidurlah dalam buaian kayu-kayu ulin Sebab tuju kelak berbalik ke tuannya Oh, betapa di kampung ini, leluhur Hidup kembali. Oh, Roh Nenek Moyang. Oh, Ladam Ladam Kuda. Jangan pernah hanyut sampai ke muara! Jerambah Bolong, 2017 Lubuk Larangan Barangkali daratan menghendaki bahwa kematian yang dikuburkan adalah perjalanan yang tak selesai maka, aku menjelma sungai dan mengalirkan kesepian bersama mantra penjaga ikan-ikan Pada segala hal yang misterius kusamarkan maut dalam deras arus bayang-bayang kail lumat ingatan seperti Nuh membelah lautan : karam bersama k...

Rise For Holiday