Langsung ke konten utama

Matinya Sastra Cyber ? Surat Terbuka untuk Diendra


Keberadaan cyber sastra tidak bisa lagi ditolak dalam kancah kesusastraan modern walaupun masih banyak kalangan yang memperdebatkannya. Diakui atau tidak, masyarakat telah mengakui bahwa secara faktual telah muncul media alternatif yang dianggap baru untuk menyalurkan karya sastra (Anggoro, 2004 : 33-34).

Membicarakan kelemahan dan kelebihan sastra cyber bukanlah hal baru lagi bagi dunia kepenulisan sastra. Bahkan bisa dibilang basi. Sebab hal tersebut telah lama menjadi perbincangan hangat para sastrawan  maupun awak media - sejak hadirnya sastra cyber itu sendiri.

Anita Lindawati menyatakan momentum awal berkembangnya sastra cyber di Indonesia, ketika buku yang cukup menghebohkan dunia kesusateraan Indonesia diluncurkan oleh Yayasan Multimedia Sastra berjudul Graffiti Gratitude. Rabu, 9 Mei 2001 lalu.  Sejak saat itu, melalui situs www.cybersastra.net, beragam blog, milis dan situs pertemanan, sastra cyber semakin berkembang dan mendapat tempatnya hampir di semua kalangan, bahkan berhasil membentuk jaringan antar sastrawan di seluruh tanah air.

Berangkat dari hal tersebut belumlah basi - bila kita sedikit memperbicangkan situs web www.angsoduo.net yang dua bulan lalu melakukan relaunching di Taman Budaya Jambi dengan slogan ’anti sampah bukan tong sastra’. Situs tersebut tak lain merupakan salah satu media sastra on line yang berupaya menghidupkan kembali cyber sastra yang selama ini mati suri di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Selain itu juga - memantau perkembangan penulis muda berbakat di Jambi.

Membaca essai karya Deindra Daya Islamil yang terbit di rubik horison koran Jambi Independent per tanggal 06 Maret 2011 lalu – menggelitik hati saya untuk melahirkan tulisan ini. Di dalam essainya Deindra mengajukan sebuah pertanyaan dan beberapa pernyataan - yang mungkin selama ini telah menjadi sesosok momok yang selalu menari bahkan mungkin menghantui jalan pikirannya.

Pertanyaan itu adalah *”Siapakah yang dapat memberikan jawaban apa bedanya sastra cyber dengan tong sastra?”  Dan Deindra juga menyatakan *”Terlebih lagi dalam mempublikasikan tulisan-tulisan di dalam sastra cyber, sensor dan peranan dewan redaksinya sama sekali tidak ada batasan. Walhasil, tulisan tersebut terkadang menjadi tulisan yang tak lazim  jika kudu ditinjau dari sastra itu sendiri dan kualitas sastra pada mestinya.” 

Baiklah, saya akan  memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pernyataan tersebut.  Dunia kepenulisan sastra cyber bukan hanya terpaut pada tulisan yang memang sengaja di publikasikan di note situs jejaring sosial atau sebatas pada blog pribadi. Yang hanya untuk koleksi pribadi semata. Meski – isi di dalamnya tergantung dari pembawaan diri si penulis. Apakah karyanya hanya sebatas sampah ?Ataukah berkualitas ? Semuanya kembali kepada siapa yang mengapresiasinya. Bukankah semua orang bebas mengapresiasi hasil karyanya di cyber sastra?

Hemat saya, cyber sastra merupakan karya sastra yang ada di jagat internet. Namun masalah keterbacaan sastra cyber tidak berangkat dari sana saja. Sastra cyber tentunya memiliki peranan penting - yang ibarat vitamin dan pil penyegar bagi penikmat dan penggiat sastra di negri merah putih ini. Hal ini dapat dilihat dari situs web sastra yang didalamnya terdapat kaidah-kaidah yang jelas memiliki batasan sensor.

Tak banyak berbeda dengan rubrik sastra yang acap kali hadir tiap minggu di media cetak.  Untuk lolos terbit di media cetak ada beberapa tahapan  yang harus dilewati  terlebih dahulu. Sebab mereka memiliki dewan redaktur dengan selera berbeda pada tiapnya. Hal demikian berlaku pula dalam situs web sastra berkualitas yang ada di tanah air. Meski perbedaan hanya terpaut pada media, keduanya memberikan sumbangsih sastra ke kancah yang lebih luas.

Contoh konkret website www.angsoduo.net. Di dalamnya terdapat tiga redaktur sekaligus - penyeleksi layak tidaknya tulisan tersebut muncul di laman situs web sastra Jambi yang lahir kembali pada 11-01-2011. Masing-masing bertugas sesuai bidangnya. Ratna Dewi – redaktur Essai, M.husairi (Ce’ Gu) – redaktur puisi dan Nurul Fahmi – redaktur cerpen. Situs cyber sastra lain yang serupa dapat dilihat pada www.tamanbudayajambi, www.kompas.com, www.Fordisastra.com, www.Rumahpuitika.com,  www.Situseni.com, www.Poetikaonline.com , www.kopisastra.org, dan masih banyak lagi.

Nurul Fahmi, salah seorang redaktur cerpen dari situs www.angsoduo.net pernah mengutarakan Slogan ’ tong sastra’ diciptakan agar memberikan kesan mendalam kepada seluruh penggiat dan penikmat sastra bahwasanya karya sastra yang akan dimuat - hanyalah tulisan berbibit-bobot baik ditilik dari segi kualitas, mutu maupun kuantitasnya. Jadi, menurut saya karya sastra yang lolos seleksi bukanlah *karya sastra asal jadi karena alasan keuniversalan itu sendiri. Mungkin, kita akan banyak menemui tulisan asal jadi tersebut di dalam blog milik pribadi yang memang sama sekali tak ada campur tangan dewan redaktur.

 
Kemudian, Deindra memberikan sedikit sumbangsih pikiran yang antara lain *”Opsi yang paling bijak untuk pengembangan sastra adalah menggabungkan peranan internet dan meningkatkan mutu tulisan dengan banyak melakukan studi kepenulisan di internet.”

Bukankah belajar bersastra bisa dilakukan dimana saja - tidak sebatas dari internet belaka. Kita bisa otodidak membaca buku mengenai kepenulisan sastra di perpustakaan, belajar dari guru Bahasa dan Sastra Indonesia, belajar langsung dari orang yang ahli menulis sastra atau studi langsung di civitas akademika berbau sastra.

Dari semua yang telah ditulis, Aku hanya mencintai apa yang ditulis seseorang dengan darahnya. Menulislah dengan darah dan Kau akan dapati bahwa darah itu adalah roh. Demikian Sabda Zarathustra (Nietzsche, 2010 : 90)

***

Tulisan saya  ini dimuat di koran jambi Independent pertanggal 20 Maret 2011. bentuk fisiknya tidak ditemukan.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelik Sumpah,Bisnis Sampingan Suku Anak Dalam

Sahabat Puan pernah mendengar sebelik sumpah khas sad (Suku Anak Dalam)? Jika belum pernah, ayo simak liputan puan.co!   Sebelik sumpah merupakan kerajinan tangan khas orang rimba / SAD di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas). Kerajinan tangan ini berupa gelang, kalung, dan gantungan kunci. Orang rimba atau SAD meyakini bahwa kalung dan gelang sebelik sumpah memiliki kekuatan magis meski tanpa diberi mantra sekalipun. Mereka percaya bahwa orang yang memakai kalung dan gelang sebelik sumpah akan terbebas dari sumpah serapah orang-orang yang bermaksud jahat. Malah, sumpah serapah itu dipercaya akan berbalik ke tuannya, seperti senjata makan tuan. Selain itu, sebelik sumpah juga bisa menjadi penolak bala yang datang kepada mereka. Karena penasaran dengan kerajinan tangan khas ini, saya pun berkunjung ke Sako Napu Makekal Hulu di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas) Merangin, Jambi. Di ibu kota Kabupaten Merangin, yaitu Bangko, tepatnya di mes Sokola Rimba, say...

Buku Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia

Oleh: Tri Wahyuni Zuhri Judul  : Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia Penulis : Kurniawan Junaedhie Penerbit : Kosa Kata Kita Jakarta Jumlah hlm. : 338 Tahun : 2012 Buku yang di tulis oleh Kurniawan Junaedhie dan di terbitkan oleh Kosa Kata Kita Jakarta, memang cukup banyak di cari. Terutama karena buku ini memuat sekitar 800-an lebih profil perempuan pengarang dan penulis Indonesia.  Sejak zaman Saadah Alim, perempuan pengarang kelahiran 1897, hingga Sri Izzati, pengarang kelahiran 1995. Dalam kata pengantar di buku ini, Kurniawan Junaeid menjelaskan alasannya membuat buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia.  Selama ini masih sedikit sekali buku  literatur yang menjelaskan sepak terjang perempuan pengarang dan penulis di Indonesia.  Sebut saja buku-buku tersebut antara lain Leksikon Kesustraan Indonesia Modern Edisi Baru (Djambatan, 1981) di susun oleh Pemusuk Eneste, Leksikon Susastra Indonesia (Balai P...

Puisi Rini Febriani Hauri dalam Buku Antologi Puisi Wartawan se-Indonesia

Dua Puisi RFH di Buku Puisi Wartawan Indonesia Pesona Ranah Bundo dalam rangka Hari Pers Nasional 2018 Sumatera Barat sumber: L'imagerie Gallery Ladam Kuda Ladam kuda bergelantungan di atas pintu rumah panggung Oh, roh nenek moyang. Jagalah kami dari marabahaya Dan segala tuah ninik mamak tua tengganai Seruan bintang dan debur sungai tabir yang keruh Menjalar ke jembatan gantung Tidurlah dalam buaian kayu-kayu ulin Sebab tuju kelak berbalik ke tuannya Oh, betapa di kampung ini, leluhur Hidup kembali. Oh, Roh Nenek Moyang. Oh, Ladam Ladam Kuda. Jangan pernah hanyut sampai ke muara! Jerambah Bolong, 2017 Lubuk Larangan Barangkali daratan menghendaki bahwa kematian yang dikuburkan adalah perjalanan yang tak selesai maka, aku menjelma sungai dan mengalirkan kesepian bersama mantra penjaga ikan-ikan Pada segala hal yang misterius kusamarkan maut dalam deras arus bayang-bayang kail lumat ingatan seperti Nuh membelah lautan : karam bersama k...

Rise For Holiday